Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Template

Powered by Blogger

SELAMAT DATANG DI KUBU JINGGA,BLOG YANG BERISI APA SAJA.
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 April 2011

Gambuh Sakral Betara Bagus Panji Nyaris Punah

AMLAPURA—
Gambuh merupakan salah satu tari sacral. Jenis tari gambuh juga berbeda-beda. Salah satunya gambuh Betara Bagus Panji. Keberadaan Gambuh Sakral Betara Bagus panji yang disungsung Dadia Pasek Tangkas Kori Agung dan Pasek Gelgel Desa Pakraman Pesedahan, Manggis, Karangasem saat ini nyaris punah. Karena tidak memiliki seniman penerus sejak tiga tahun terakhir.

Selasa, 08 Maret 2011

Ter-Teran Sambut Tahun Baru Caka



AMLAPURA—
Unik dan menegangkan. Itulah sekelumit ungkapan yang terlontar ketika menyaksikan tradisi Ter-teran (perang api) yang digelar desa pekraman Jasri, Karangasem. Tradisi dengan sarana prakpak (daun kelapa kering) digelar setiap dua tahun sekali, tepatnya pada hari Pangerupukan atau sehari sebelum hari raya Nyepi.

Kamis, 17 Februari 2011

Tradisi Ngurisang dan Naburin

AMLAPURA—
Perayaan hari Maulid Nabi Muhammad 1432 H yang jatuh pada Selasa (15/2) dihiasi berbagai tradisi. Seperti di Kampung Sindu, Desa Sinduwati, Sidemen, Karangasem. Perayaan Maulid Nabi diwarnai Ngurisang (potong rambut) dan Metabur (nabur uang). Tradisi ini diikuti oleh warga sekampung baik anak-anak maupun orang tua. Mereka berebut memungut kepingan uang logam yang diyakini membawa berkah.

Senin, 14 Februari 2011

19 Buah Pura Menyandang Status Dang Khayangan

AMLAPURA—
Bappeda Karangasem mencatat hanya 19 Pura berhak menyandang status Pura Dang Khayangan. Jumlah ini menciut setelah dilakukan verifikasi. Sebelumnya, pura Dang Khayangan disebutkan berjumlah 177 buah.

Selasa, 01 Februari 2011

Usabha Dalem, Haturkan Ratusan Babi Guling



AMLAPURA-

Usabha Dalem yang digelar dipura Dalem desa pekraman Timbrah berlangsung unik. Ratusan babi guling dihaturkan dalam upacara tersebut.

Selasa, 21 Desember 2010

Mejaga-Jaga dan Muu-Uu Saat Kepitu

AMLAPURA—
Purnama Kapitu (purnama bulan ketujuh perhitungan kalender Bali) merupakan purnama yang istimewa bagi sebagian masyarakat Bali. Seperti misalnya di Desa Pasedahan, Manggis, Karangasem, saat purnama kepitu upacara dilakukan ditiga mandala khayangan desa yakni di Pura khayangan Jagat Rambut Petung yang merupakan stana Dewa Sangkara (sesuai Lontar Padma Buana), Pura Gedong simbolis Dewa kemakmuran (Betara Rambut Sedana) serta dimadya mandala yakni di Catus Pata yang merupakan titik penyeimbang positif negatif.

Selasa, 14 Desember 2010

Tulisan Lontar Tenganan Disukai Wisatawan

AMLAPURA—
Desa wisata Tenganan Pageringsingan, Manggis yang berada tidak jauh dari pusat kota Amlapura selain terkenal memiliki berbagai budaya unik juga menjadi pusat penjualan berbagai cinderamata. Kios yang berada disekitar desa budaya tersebut banyak menawarkan hasil kerajinan baik kain Geringsing maupun berbagai kerajinan yang terbuat dari anyaman ata maupun lukisan diatas daun lontar.

Senin, 01 November 2010

Pengeboran Lereng Lempuyang Ditolak --Tim Sosialisasi Diminta Legowo

AMLAPURA—
Tim peneliti yang berencana melakukan pengeboran di Tukad Bangle, lereng Gunung Lempuyang nampaknya tidak putus asa. Meski rencana pengeborannya tersebut sempat ditolak warga Dusun/Desa Bunutan, Abang, Karangasem, namun Minggu (31/10) tim peneliti kembali mensosialisasikan rencana awalnya untuk mengebor lereng Gunung Lempuyang.

Rabu, 27 Oktober 2010

Ratusan Prajurit Majapahit Diupacarai --Ritual Menjaga Kekuatan Magis Sabuk Poleng


AMLAPURA—

Karangasem tidak pernah kering dengan budaya unik. Tidaklah mengherankan jika banyak wisatawan asingmaupun mancanegara yang datang hanya untuk menyaksikan tradisi yang tidak mereka temukan didaerah lainnya. Seperti salah satu sejarah budaya pada masa kerajaan Majapahit yang hingga kini masih terjaga dengan baik di Desa Nyuh Tebel, Manggis, Karangasem.

Selasa, 12 Oktober 2010

Nerang Masal Diikuti Puluhan Pawang Hujan


AMLAPURA—

Ritual nerang (menolak hujan) massal dilakukan warga Dusun Griyana Kangin, Desa Selat, Karangasem. Nerang massal ini diikuti oleh puluhan pawang hujan dan ribuan warga yang dilakukan dipura Puseh desa setempat.

Sabtu, 25 September 2010

Puri Gede Mapica Keris Kepada Desa Adat

AMLAPURA—

Penglingsir Puri Gede Karangasem Anak Agung Ngurah Agung, SH, MH menyerahkan tiga pucuk keris kepada Prajuru Desa Adat Pesedahan di Puri Gede Amlapura, kemarin.

Usaba Gumang, Jalanan Lumpuh


AMLAPURA—

Prosesi upacara Usabha Gumang yang berlangsung di Bukit Gumang, Sanghyang Ambu, Desa Adat Bugbug, Kecamatan Karangasem, memang fenomenal. Setiap kali berlangsung pujawali ditahun genap, sudah dipastikan jalur transportasi macet total alias lumpuh, mengingat ribuan kendaran roda dua dan mobil memenuhi area Bukit Sanghyang Ambu ditambah ribuan umat yang datang memedek.

Selasa, 21 September 2010

Usaba Dewa Mapalu, 50 Jempana Tedun Mabiasa

AMLAPURA—

Puncak Usabha di Pura Gumang, Desa Adat Bugbug, Karangasem berlangsung pada Selasa (21/9) kemarin. Prosesi ditandai dengan Mebiasa Ida Betara-Betari dari empat desa yakni Desa Bugbug, Desa Bebandem, Desa Jasri dan Desa Ngis dipuncak bukit Gumang.

Minggu, 19 September 2010

Tradisi Syawalan dan Makam Keramat Datuk Mas Pakel

AMLAPURA—
Tradisi syawalan hingga kini masih dijalankan umat muslim dari sejumlah kampung Islam di Karangasem. Tradisi syawalan ini dilakukan disejumlah pantai. Sebelum melaksanakan tradisi Syawalan, umat Islam melakukan ibadah puasa Syawal selama tujuh hari penuh.

Jumat, 30 Juli 2010

Tradisi ''Berdarah-Darah'' Dikagumi Wisatawan



AMLAPURA—
Warisan budaya mekare-kare atau yang lebih terkenal dengan sebutan perang pandan di Desa adat Tenganan Dauh Tukad memukau ratusan wisatawan domestic maupun mancanegara. Meski tubuhnya bersimbah darah, namun mereka serasa tidak merasakan sakit.

Tradisi Daha Nyambah di Tenganan Dauh Tukad



AMLAPURA—
Tradisi unik banyak dimiliki oleh desa tua yang ada di Karangasem. Salah satunya tradisi daha nyambah yang ada di desa Tenganan Dauh Tukad.

Rabu, 30 Juni 2010

Tradisi Dewa Perang Undang Wisatawan


AMLAPURA—
Berbagai tradisi unik didesa Tenganan Pageringsingan benar-benar mampu mengundang decak kagum wisatawan baik domestic maupun mancanegara. Seperti tradisi Mageret Pandan (Perang Pandan) atau yang biasa disebut Makare-Kare meski merupakan tradisi yang rutin dilakukan setiap tahun, namun ternyata mampu mengundang pengunjung.

Nyegara Gunung Di Pura Candidasa ---Prosesi Berjalan 4 Km Jadi Tontonan


AMLAPURA—

Upacara Nyegara Gunung di Pura Candidasa yang merupakan rangkaian dari Aci Sumbu berhasil mengundag decak kagum wisatawan asing. Persembahyangan di Pura yang didirikan oleh Sri Aji Jayapangus ini diikuti oleh ribuan umat Hindu. Tidak sedikit tourist yang berlibur ditempat wisata ikut melakukan persembahyangan dipura tersebut.

Senin, 03 Mei 2010

Mesabat-Sabatan Biu--Tes Menyaring Calon Pemimpin



TENGANAN seakan tidak pernah habis menyuguhkan budaya unik. Seperti tradisi Masabat-Sabatan Biu (perang pisang) yang ada di desa Tenganan Dauh Tukad. Tradisi ini dilangsungkan setiap bulan ketiga menurut penanggalan Tenganan untuk mencari calon pemimpin.

Upacara yang merupakan rangkaian dari Usaba Sambah ini memiliki makna psikotest bagi calon pemimpin, sehingga nantinya bisa menjadi pemimpin yang tangguh.

Dua orang anak muda akan tampilsebagai calon pemimpin yang disebut saya (calon pemimpin) dan penampih (wakil calon pemimpin). Sebelum dimulai perang biu, kasinoman (anggota teruna) berkeliling desa mencari buah seperti pisang dan kelapa yang akan dijadikan sarana diladang warga. Lalu, kasinoman ini istirahat di depan Pura Dalem Majapahit. Tidak lama berselang, setelah pemangku usai sembahyang di Bale Agung, barulah dibunyikan kulkul, sebagai tanda saya dan penampih mulai berjalan menuju Bale Agung. Saat berjalan itulah, kedua calon pemimpin ini disoraki oleh kasinoman. Selanjutnya, kasinoman menjadikan keduanya sasaran tembak dalam perang biu tersebut.

Dalam perang biu ini juga ada aturannya. Dimana, kasinoman saat melempar saya dan penampih harus sambil memilikul kelapa sekitar 20 butir. Sedangkan saya dan penampih membawa tegen-tegenan sok besar. Kelapa yang dibawa juga tidak boleh jatuh. Kalau ampai terjatuh, yang membawa dikenakan denda sebesar harga kelapa yang jatuh. ‘’Setiap anggota yang akan naik Teruna pasti mejalani prosesi ini, ini sebagai bentuk ujian mental,’’terang Kelian Teruna, Komang Budiana.

Dalam perang biu, bagian yang tidak boleh diserang adalah organ tubuh bagian kepala. Usai dilakukan perang biu anak-anak diberikan makan bergibung disebuah bale panjang. Gibungan yang dibuatkan berupa urap-urapan dari pisang yang dicampur kelapa parut. Tujuannya, agar anak-anak juga ikut menikmati.

Selain prosesi mencari calon pemimpin, tradisi ini juga serangkaian dengan Usaba Sambah (mageret pandan) yang akan dilakukan dua bulan mendatang. Dalam upacara ini, dibuatkan jajan sebagai gantungan. Jajan yang dijadikan gantungan ini dibuat dalam berbagai bentuk kehidupan dibumi seperti lambang bulan, tumbuhan, binatang dan kehidupan lainnya. dek.

Minggu, 25 April 2010

Raja Karangasem, Pengempon Pura Rambut Petung



PURA Rambut Petung yang berlokasi di desa Pesedahan, Manggis, Karangasem disungsung oleh beberapa desa yang memiliki kaitan sejarah dengan keberadaan pura tersebut.

Menurut Prasasti Leden bertahun 1631, Pura Rambut Petung memiliki kaitan dengan Raja Karangasem. Dimana pura ini merupakan emponan dan penyungsungan Raja Karangasem. Pernyataan tersebut diperkuat dengan prasasti Dalem Pasuruan yang bertahun sama. Keberadaan Pura tersebut sempat terbengkalai ketika terjadi pergolakan kaum Bali mula dengan penguasa Kerajaan Gelgel di masa itu. Seusai perang dengan kekalahan Bali mula, diperintahkanlah utusan yang kini menjadi warga setempat untuk mengurus dan mepahayu di Pura tersebut.

Pura yang juga disungsung Raja Karangasem ini memiliki bangunan pelinggih utama berupa Meru Tumpang Solas. Bangunan ini diyakini sebagai stana Ida Betara Gede Lingsir Rambut Petung dengan pretime berbentuk apilan.

Menurut Jero Mangku Gede Nengah Sujati, keberadaan sesuhunan di Pura itu diyakini merupakan pusat penyatur desa, dimana putra-putra beliau disungsung di desa adat Sengkidu, Nyuhtebel dan Tenganan Dauh Tukad. Selain ketiga desa tersebut juga disungsung desa Perasi, Selumbung dan Ngis.

Versi lain menyebutkan, keberadaan pura ini adalah rangkaian ekspedisi sehingga masih kuat disungsung hingga sekarang. Hal ini terkait dengan keberadaan raja-raja dimana hubungan keterkaitan antar kerajaan di masa lalu ada terdapat hubungan geneologis ataupun riwayat sejarah kerajaan.

Keberadaan penyungsungan Betara Gede Lingsir Rambut Petung yang diiringi oleh penyungsungan lainnya, seperti Ida Betara Gede Jaksa, Ida Betara Ayu Mas, Ida Betara Ayu Batur, Ida Betara Bagus Ujung, Ida Betara Bagus Sega, Ida Betara Bagus Bebukit, Betara Ratu Pasek Gelgel dan Betara Ratu Pasek Tangkas.

Penghulu desa adat, Mangku I Gusti Ngurah Ginatra menyatakan, keluarga puri selalu datang menghaturkan sembah dipura ini.
Drs. Anak Agung Ngurah Agung, MM, salah satu keturunan Puri Karangasem mengatakan, karena demikian banyak penyungsungan yang ada di Wilayah Karangasem yang dimasa lalu merupakan emponan Raja, kini wajib dijaga dan dilestarikan keberadaannya oleh masyarakat pengempon. dek