Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Template

Powered by Blogger

SELAMAT DATANG DI KUBU JINGGA,BLOG YANG BERISI APA SAJA.
Tampilkan postingan dengan label WISATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Maret 2011

Air Terjun Jaga Satru Belum Banyak Dikenal, Cocok Untuk Wisata Spiritual

AMLAPURA—
Keindahan alam yang dimiliki kabupaten penghujung timur pulau Bali ternyata tidak kalah menarik dengan daerah lainnya. Hanya saja, keindahan alam yang dimiliki tidak dikelola dengan baik. Salah satu keindahan alam yang berpotensi menjadi kawasan wisata spiritual yakni air terjun Jaga Satru yang berada di Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Karangasem.

Senin, 14 Februari 2011

Preman Besakih Dikhawatirkan Rusak Citra Pariwisata Karangasem

AMLAPURA—
Pemerintah Karangasem dibuat geram oleh sejumlah oknum pembalak dikawasan wisata Besakih. Ulah mereka kerap melakukan pemerasan kepada wisatawan, jika kondisi ini dibiarkan dikhawatirkan dapat merusak citra pariwisata Karangasem.

Selasa, 01 Februari 2011

Usabha Dalem, Haturkan Ratusan Babi Guling



AMLAPURA-

Usabha Dalem yang digelar dipura Dalem desa pekraman Timbrah berlangsung unik. Ratusan babi guling dihaturkan dalam upacara tersebut.

Selasa, 14 Desember 2010

Tulisan Lontar Tenganan Disukai Wisatawan

AMLAPURA—
Desa wisata Tenganan Pageringsingan, Manggis yang berada tidak jauh dari pusat kota Amlapura selain terkenal memiliki berbagai budaya unik juga menjadi pusat penjualan berbagai cinderamata. Kios yang berada disekitar desa budaya tersebut banyak menawarkan hasil kerajinan baik kain Geringsing maupun berbagai kerajinan yang terbuat dari anyaman ata maupun lukisan diatas daun lontar.

Rabu, 27 Oktober 2010

Ratusan Prajurit Majapahit Diupacarai --Ritual Menjaga Kekuatan Magis Sabuk Poleng


AMLAPURA—

Karangasem tidak pernah kering dengan budaya unik. Tidaklah mengherankan jika banyak wisatawan asingmaupun mancanegara yang datang hanya untuk menyaksikan tradisi yang tidak mereka temukan didaerah lainnya. Seperti salah satu sejarah budaya pada masa kerajaan Majapahit yang hingga kini masih terjaga dengan baik di Desa Nyuh Tebel, Manggis, Karangasem.

Selasa, 12 Oktober 2010

Nerang Masal Diikuti Puluhan Pawang Hujan


AMLAPURA—

Ritual nerang (menolak hujan) massal dilakukan warga Dusun Griyana Kangin, Desa Selat, Karangasem. Nerang massal ini diikuti oleh puluhan pawang hujan dan ribuan warga yang dilakukan dipura Puseh desa setempat.

Kamis, 07 Oktober 2010

Investor Thailand Lirik Karangasem

AMLAPURA—
Potensi pariwisata Karangasem benar-benar menjanjikan sehingga sangat disukai investor mancanegara. Ketertarikan akan pariwisata Karangasem datang dari investor asal negeri Gajah Putih, Thailand. Mr. Roof menunjukkan ketertarikannya dengan bertemu Bupati Karangasem I Wayan Geredeg, kemarin.

Sabtu, 25 September 2010

Mengintip Keindahan Pantai Batu Belah Menjanjikan


AMLAPURA—

Banyak tempat wisata alam yang terdapat di Kabupaten pengujung Timur Pulau Bali. Tempat wisata alam dengan background pantai ini sangat ramai dikunjungi wisatawan baik domestic maupun mancanegara. Kesan alami yang disuguhkan oleh pantai Batu Belah yang berlokasi di Desa Datah, Kecamatan Abang, Karangasem masih sangat terasa.

Selasa, 21 September 2010

Usaba Dewa Mapalu, 50 Jempana Tedun Mabiasa

AMLAPURA—

Puncak Usabha di Pura Gumang, Desa Adat Bugbug, Karangasem berlangsung pada Selasa (21/9) kemarin. Prosesi ditandai dengan Mebiasa Ida Betara-Betari dari empat desa yakni Desa Bugbug, Desa Bebandem, Desa Jasri dan Desa Ngis dipuncak bukit Gumang.

Minggu, 19 September 2010

Tradisi Syawalan dan Makam Keramat Datuk Mas Pakel

AMLAPURA—
Tradisi syawalan hingga kini masih dijalankan umat muslim dari sejumlah kampung Islam di Karangasem. Tradisi syawalan ini dilakukan disejumlah pantai. Sebelum melaksanakan tradisi Syawalan, umat Islam melakukan ibadah puasa Syawal selama tujuh hari penuh.

Jumat, 30 Juli 2010

Tradisi ''Berdarah-Darah'' Dikagumi Wisatawan



AMLAPURA—
Warisan budaya mekare-kare atau yang lebih terkenal dengan sebutan perang pandan di Desa adat Tenganan Dauh Tukad memukau ratusan wisatawan domestic maupun mancanegara. Meski tubuhnya bersimbah darah, namun mereka serasa tidak merasakan sakit.

Tradisi Daha Nyambah di Tenganan Dauh Tukad



AMLAPURA—
Tradisi unik banyak dimiliki oleh desa tua yang ada di Karangasem. Salah satunya tradisi daha nyambah yang ada di desa Tenganan Dauh Tukad.

Selasa, 27 Juli 2010

Wisata Alam Bukit Putung, Mutiara Dari Timur Yang Terbengkalai



AMLAPURA—
Pondok wisata bukit Putung merupakan salah satu kawasan wisata alam yang ada di Kabupaten Karangasem. Tempat wisata Bukit Putung berada di Desa Duda Timur, Kec. Selat, Karangasem, sekitar 64 km dari kota Denpasar dan sekitar 19 km dari Amlapura.

Minggu, 11 Juli 2010

Taman Ujung, Tempat Refresing Raja Karangasem Tempo Dulu


TAMAN Soekasada Oejoeng (Sukasada Ujung) merupakan salah satu tempat wisata peninggalan Raja Karangasem, yang bangunannya dikelilingi air sehingga populer dengan sebutan Water Palace. Taman Ujung dibangun pada masa pemerintahan Raja Karangasem AA Gde Djelantik tahun 1901.

Rabu, 30 Juni 2010

Tradisi Dewa Perang Undang Wisatawan


AMLAPURA—
Berbagai tradisi unik didesa Tenganan Pageringsingan benar-benar mampu mengundang decak kagum wisatawan baik domestic maupun mancanegara. Seperti tradisi Mageret Pandan (Perang Pandan) atau yang biasa disebut Makare-Kare meski merupakan tradisi yang rutin dilakukan setiap tahun, namun ternyata mampu mengundang pengunjung.

Selasa, 25 Mei 2010

Taman Soekasada Oejoeng --Peninggalan Raja Karangasem


KARANGASEM—
Taman Soekasada Oejoeng merupakan salah satu tempat wisata peninggalan Raja Karangasem, yang bangunannya dikelilingi air sehingga populer dengan sebutan Water Palace.

Senin, 03 Mei 2010

Mesabat-Sabatan Biu--Tes Menyaring Calon Pemimpin



TENGANAN seakan tidak pernah habis menyuguhkan budaya unik. Seperti tradisi Masabat-Sabatan Biu (perang pisang) yang ada di desa Tenganan Dauh Tukad. Tradisi ini dilangsungkan setiap bulan ketiga menurut penanggalan Tenganan untuk mencari calon pemimpin.

Upacara yang merupakan rangkaian dari Usaba Sambah ini memiliki makna psikotest bagi calon pemimpin, sehingga nantinya bisa menjadi pemimpin yang tangguh.

Dua orang anak muda akan tampilsebagai calon pemimpin yang disebut saya (calon pemimpin) dan penampih (wakil calon pemimpin). Sebelum dimulai perang biu, kasinoman (anggota teruna) berkeliling desa mencari buah seperti pisang dan kelapa yang akan dijadikan sarana diladang warga. Lalu, kasinoman ini istirahat di depan Pura Dalem Majapahit. Tidak lama berselang, setelah pemangku usai sembahyang di Bale Agung, barulah dibunyikan kulkul, sebagai tanda saya dan penampih mulai berjalan menuju Bale Agung. Saat berjalan itulah, kedua calon pemimpin ini disoraki oleh kasinoman. Selanjutnya, kasinoman menjadikan keduanya sasaran tembak dalam perang biu tersebut.

Dalam perang biu ini juga ada aturannya. Dimana, kasinoman saat melempar saya dan penampih harus sambil memilikul kelapa sekitar 20 butir. Sedangkan saya dan penampih membawa tegen-tegenan sok besar. Kelapa yang dibawa juga tidak boleh jatuh. Kalau ampai terjatuh, yang membawa dikenakan denda sebesar harga kelapa yang jatuh. ‘’Setiap anggota yang akan naik Teruna pasti mejalani prosesi ini, ini sebagai bentuk ujian mental,’’terang Kelian Teruna, Komang Budiana.

Dalam perang biu, bagian yang tidak boleh diserang adalah organ tubuh bagian kepala. Usai dilakukan perang biu anak-anak diberikan makan bergibung disebuah bale panjang. Gibungan yang dibuatkan berupa urap-urapan dari pisang yang dicampur kelapa parut. Tujuannya, agar anak-anak juga ikut menikmati.

Selain prosesi mencari calon pemimpin, tradisi ini juga serangkaian dengan Usaba Sambah (mageret pandan) yang akan dilakukan dua bulan mendatang. Dalam upacara ini, dibuatkan jajan sebagai gantungan. Jajan yang dijadikan gantungan ini dibuat dalam berbagai bentuk kehidupan dibumi seperti lambang bulan, tumbuhan, binatang dan kehidupan lainnya. dek.

Rabu, 28 April 2010

Mengintip Angkernya Batu Gede--Pantang Berkata Kotor, Ada Pemandian Bidadari



KEYAKINAN akan tempat angker masih sangat kental dimasyarakat. Perkembangan teknologi yang pesat tidak mampu menembus aura gaib yang tersimpan. Seperti keberadaan sebuah batu besar dibantaran sungai Janga, Lingkungan Paya, Amlapura. Tempat yang berada didekat sebuah kuburan ini diyakini menyimpan misteri gaib.

Batu besar disamping sungai oleh warga disebut Batu Gede. Sesuai namanya, batu ini ukurannya besar dengan besar sekitar 3 meter dan tinggi 2 meter. Oleh warga, batu tersebut dikeramatkan.

Bermagai cerita mistik beredar terkait keberadaan batu tersebut. Menurut salah satu warga, Arya, mengaku, kejadian aneh kerap dialami oleh warga yang melintas disungai tersebut. Sehingga tidaklah mengherankan kalau areal angker disungai tersebut jarang dilewati warga. ‘’Ditempat ini, tidak boleh mengeluarkan kata-kata kasar,’’ungkap Arya.

Dulu pernah kejadian menimpa seseorang yang mencari ikan dilokasi tersebut. Setelah lama menunggu, ternyata keinginannya untuk mendapatkan ikan kandas. Bubu yang dipasangnya berjam-jam hanya disamperi seekor kepiting. Karena kesal, orang tersebut mengumpat lanjut pulang. Setiba dirumah, betapa terkejutnya orang tersebut karena buah zakarnya membengkak sebesar buah kelapa. Atas saran orang pintar, orang tersebut lantas menghaturkan sesajen di batu tersebut dan penyakit aneh yang dialaminya berangsur sembuh.

Kejadian aneh lainnya juga dialami warga lainnya. Saat itu sekitar pukul 12.00 wita, orang tersebut mengaku melihat rangda menyeramkan bersandar di Batu Gede. Kontan saja, petani yang semula hendak berendam langsung kabur. Kejadian aneh lainnya juga pernah dialami warga lainnya seperti keberadaan ayam jago merah dilokasi tersebut.

Selalu Didatangi Kunang Kunang
Dipercaya Sebagai Tempat Permandian Bidadari

Lokasi Batu Gede berada di Sungai Janga. Untuk mencapai tempatnya tidak mudah dan harus melewati sebuah kuburan. Karena dikenal angker, tidak banyak warga yang berani mandi atau melakukan aktifitas di sekitar Batu Gede. Karena penunggu Batu Gede sering berbuat jahil, warga yang mengambil air biasanya mengambil jauh dari lokasi batu berada.

Artawan warga lainnya menceritakan, konon, ketika Gunung Agung meletus, alur sungai ini tertimbun lahar dan Batu Gede hanya tampak setengahnya saja. Beberapa tahun kemudian terjadi banjir besar yang membuat alur sungai semakin dalam. Tetapi anehnya Batu ukuran besar itu tak bergeming, padahal batu-batu besar lainnya hanyut.

Didekat Batu Gede, warga meyakini ada pemandian bidadari. Tempat yang dimaksud mirip seperti kolam alam dengan pilah batu disekelilingnya. Airnya nampak jernih karena tidak pernah dijamah. Saat hari-hari tertentu, ratusan kunang-kunang selalu datang di tempat itu. Warga yang kerap melihat kejadian aneh semakin tidak berani untuk melakukan aktifitas di sekitarnya. Bahkan, seorang warga dikatakan sempat melihat ketimun guling (mentimun dengan ukuran besar) tergeletak diatas Batu Gede. Ketika didekati mentimun tersebut tiba-tiba hilang. dek.

Minggu, 18 April 2010

Tradisi Perang Api --Kepercayaan Membakar Angkara Murka Dalam Diri


AMLAPURA-

Tradisi unik di Karangasem seakan tiada habisnya. Berbagai kebudayaan nenek moyang hingga kini masih dijaga kelestariannya. Salah satunya tradisi Ter-Teran atau lebih terkenal dengan sebutan perang api.

Sejatinya, perang api di Karangasem dilakukan dibeberapa desa. Hanya saja, pelaksanaannya yang berlainan. Di Desa Jasi, Karangasem, misalnya. Perang api dilakukan setiap dua tahun sekali pada hari Pangerupukan atau sehari sebelum Nyepi. Pelaksaan ini berbeda dengan di Dusun Saren Kauh, Desa Saren, Bebandem, Karangasem. Perang api dilakukan saat bulan mati (Tilem) yang jatuhnya bertepatan pelaksanaan Usabha Dalem, di desa setempat yang dilakukan selama tiga hari.

Menurut Pemangku Desa setempat, Jro Mangku Wayan Laga, mengatakan, perang api memiliki makna untuk membakar buana agung dan buana alit dari keangkara murkaan dan menghidupkan kembali Dahrma. Sarana yang digunakan dalam perang api berupa sabut kelapa. Menurut filsafat, sabut kelapa digunakan dalam perang api karena api dalam sabut kelapa (sambuk) matinya pelan. Ini artinya, Dharma hidupnya lama.

Sebelum perang api dilakukan, semua sarana yang akan digunakan diupacarai. Setelah persembahyangan, barulah perang api dimulai yang diawali dengan pembakaran sabut kelapa. Setelah itu, warga yang terbagi dalam dua kelompok langsung bereaksi seperti orang kesurupan. Mereka menyambar api yang berkobar lalu melempar dan mengejar warga lainnya sehingga menyerupai sebuah pertempuran dengan menggunakan api.

Dalam upacara perang api juga ada pantangan yang disepakati warga. Dimana, saat perang api berlangsung, tidak ada yang menghidupkan lampu, dengan tujuan agar warga yang saling melempar api benar-benar tidak mengetahui siapa yang melemparnya. Ini untuk menghindari dendam.

Meskipun banyak peserta yang mengalami luka bakar. Namun anehnya, mereka mengaku tidak merasa kepanasan atau perih. Mereka memiliki keyakinan, api tersebut membakar aura negative dalam tubuh. dek.

Minggu, 11 April 2010

Air Lima Rasa di Bawah Gunung Lempuyang



UNIK dan menarik. Itulah ungkapan yang akan terlontar ketika kita mencicipi rasa air yang keluar dari lima buah klebutan (mata air bawah tanah) di Dusun/Banjar Bangle, Desa Bunutan, Abang, Karangasem. Lima mata air tersebut memiliki rasa yang berbeda-beda.

Lokasi klebutan tersebut berada dibawah perbukitan gunung Lempuyang. Untuk mencapai lokasi mata airnya, warga maupun wisatawan yang hendak kesana harus berjalan kaki sejauh lebih kurang 3 km untuk mencapai klebutan pertama. Selanjutnya,untuk mencapai klebutan lainnya, pengunjungpun harus naik bukit lebih tinggi dengan kondisi tanahnya yang lumayan licin.

Menurut keyakinan masyarakat setempat, air dengan rasa berbeda ini dipercaya mampu mengobati berbagai macam penyakit seperti mengobati kencing manis, kencing batu maupun penyakit lainnya. Tidaklah mengherankan jika klebutan tersebut ramai dikunjungi warga yang memohon kesembuhan. Mereka kebanyakan berasal dari Buleleng, Ubud, Gianyar maupun daerah lainnya. Tidak jarang, warga maupun wisatawan sengaja datang hanya untuk mencicipi rasa airnya yang dinilai unik.

Diklebutan pertama rasa air yang keluar dari tanah masam, seperti rasa buah asam. Jika dirasa-rasakan, setelah mencoba meminumnya, lidah akan terasa keset. Selanjutnya klebutan kedua yang berada sekitar 500 meter dari lokasi pertama memiliki rasa pahit. Sebelum sampai ditenggorokan, rasanya rada-rada masam (seperti rasa nano-nano). Bila kita terus naik akan tiba di klebutan ketiga dengan rasa manis. Klebutan keempat yang ada diatasnya memiliki dua rasa yakni rasa tawar dan asam. Sementara itu, klebutan kelima kembali berasa asam seperti klebutan pertama.
Lokasi klebutan kedua nampak sangat memprihatinkan, karena dekat pancuran air kondisi tanahnya labil dan sering longsor.

Menurut kelian banjar setempat, I Nyoman Pande, air klebutan dengan lima rasa yang berbeda tersebut sudah ditemukan ratusan tahun lalu. Namun, keberadaannya mulai terkenal sekitar tahun 1980-an. Keberadaan air klebutan dengan lima rasa tersebut masih memiliki hubungan dengan keberadaa Pura Lempuyang. Hanya saja diakui, dirinya tidak mengetahui secara jelas hubungannya.

Keberadaan kelima klebutan tersebut sangat disucikan oleh warga. Warga yang datang kesana juga tidak bisa sembarangan. Biasanya, warga yang sedang kecuntaka (seperti datang bulan) tidak diperkenankan mengunjungi klebutan tersebut. Setiap tahun tepatnya pada Purnama Ketiga (dalam perhitungan kalender Bali), kelima klebutan tersebut diupacari oleh warga Banjar setempat. Dalam setiap upacara di pura-pura setempat, klebutan tersebut juga menjadi tempat melasti (mesucian).dek.